“𝙏𝘼𝘽𝙐𝙍 – 𝙏𝙐𝘼𝙄”.#

“𝙏𝘼𝘽𝙐𝙍 – 𝙏𝙐𝘼𝙄”

Shalom Aleichim – Salam Damai Sejahter bagi kita semua.
🕎
Menurut Kitab suci, apakah kita menuai apa yang kita tabur?
⚖️
Prinsip tabur tuai dijumpai di sepanjang Kitab suci, karena hal ini sering dijumpai oleh manusia.
Upaya mempekerjakan tanah guna memanen hasilnya berkaitan erat dengan sejarah umat manusia.
🪔
Salah satu bagian dari “kutukan Adam” ialah bahwa tanah akan menghasilkan duri sebagai hasil dari upaya Adam dan “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu” (Kej. 3:19).
🔥
Dalam memahami konsep “tabur-tuai” baik secara “harafiah maupun secara kiasan.”
Kiasan menuai apa yang ditabur juga dapat merujuk pada dua ayat dalam Perjanjian Baru.
Salah satunya ditemui dalam 2 Korintus 9:6, “Dan ini: Siapa yang menabur sedikit, ia akan menuai sedikit pula, dan siapa yang menabur dengan penuh berkat, ia akan menuai dengan penuh berkat pula.”
💐
Satunya lagi ditemukan dalam Galatia 6:7,
“Janganlah kamu disesatkan! Elohim tidak dapat diolok-olok, karena apa saja yang seseorang taburkan, itu juga akan dia tuai.”
🪷
Sebagai prinsip umum, memang benar bahwa aktifitas menabur akan diikuti oleh penuaian sesuai dengan apa yang ditabur.
Hal ini berlaku secara agraris dan juga dalam halnya pilihan hidup.
Oleh karena itu, ajaran “tabur-tuai” itu memang sesuai dengan Kitab suci.
🌷
Adapula ayat Perjanjian Lama yang membahas prinsip tabur-tuai. “Siapa yang menabur ketidakadilan akan menuai kesusahan dan tongkat murkanya akan usang.” ditulisnya Raja Salomo (Amsal 22:8).
🪔
Demikian juga yang ditulis oleh Nabi Hosea: “Engkau telah membajak kefasikan; engkau telah menuai kejahatan. Engkau telah memakan buah kebohongan, karena engkau menaruh percaya pada jalanmu, pada banyaknya orang-orang perkasamu.” (Hos 10:13)
🪔
Juga di Amsal 1:31;
“maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka sendiri, dan menjadi kenyang oleh nafsu mereka sendiri.”
🪷
Dalam setiap kasus, “hukum tabur dan tuai” merujuk kembali pada keadilan Elohim.
Meskipun ada prinsip rohani yang berlaku dalam halnya ketika kita menabur perbuatan jahat, kita akan menuai akibat yang buruk, adapula belas kasihan.
Untungnya kita tidak selalu menuai apa yang kita tanam.
Elohim berhak berbelas kasihan pada siapapun yang Ia hendaki, sebagaimana firman-Nya kepada Musa, “Aku mau merahmati siapa yang mau Aku rahmati, dan Aku mau beri belas kasihan siapa yang mau Aku belas kasihani.” (Roma 9:15).
🪔
Oleh karena belas kasihan Elohim, kita memperoleh kediaman surgawi kelak, meskipun kita berdosa.
Kita menabur kelaliman dan kejahatan, dan YESHUA telah menuai hukuman kita di atas kayu salib. Terpujilah Dia selamanya.
👑
Kadang yang tampak bagaikan tuaian panen bukan demikian.
Ketika Ayub sedang menderita, teman-temannya menganggap kesulitan yang menimpanya sebagai hukuman adil dari Elohim atas dosa yang dirahasiakan.
Elifas, teman Ayub berkata: “Seperti apa yang telah aku lihat, bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan akan menuai hal yang sama.” (Ayub 4:8).
🪔
Namun dalam kasus Ayub, Elifas keliru. Tuaian belum tiba – dan dia tidak tiba sampai akhir kitab itu; karena “Kesetiaan Ayub, YAHWEH Elohim memulihkan keadaannya menjadi dua kali lipat dari sebelumnya” (Ayub 42:10-17).
🪷
Mengalami situasi buruk bukan berarti kita telah menabur benih yang buruk.
Prinsip “tabur-tuai” secara umum benar, tapi tidak selalu terjadi dalam setiap situasi yang kita jumpai.

“Tabur-tuai” berlaku baik secara positif maupun secara negatif.
“Sebab ia yang menabur bagi dagingnya sendiri, dari dagingnya dia akan menuai kebinasaan, tetapi dia yang menabur bagi Roh, dari Roh dia akan menuai hidup yang kekal.” (Galatia 6:8).
🪔
Ayat ini merangkum prinsip tabur-tuai dengan baik.
Ketika kita bersikap egois, sombong, tidak adil, fasik, dan mengandalkan diri, maka kita sedang “menabur dalam daging,” dan kebinasaan menanti.
💝
Ketika kita bersikap tanpa pamrih, murah hati, ramah, dan mengandalkan pemeliharaan dan keselamatan dari Elohim, kita sedang “menabur dalam Roh” dan menuai kehidupan kekal.
⚖️
Iman kita dalam YESHUA Hamasiakh dan pencarian akan kesalehan adalah “menabur dalam Roh.”
“Menabur dalam daging”, dengan mengandalkan diri sendiri dan kemampuan kita tanpa pertolongan Elohim, hanya akan membawa pada jalan buntu.
Namun ketika kita percaya pada Hamasiakh, kita mendapat kehidupan kekal.
Kasih-Nya bagaikan tanah yang subur yang darinya kita menuai buah yang baik.
⚖️
“Sudahkan anda menabur dalam Roh?”
🌈
Shalom,..
HaleluYah
Tuhan YESHUA memberkati kita semua.
Amin..🙏😇💝

Oleh Abraham Alex